| |
Rumah Therapy's posts with tag: thibbun nabawwi
 | Berobat | Mar 14, '08 7:04 PM for everyone |
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya, yang akan diketahui siapa pun yang mengetahuinya, Jika suatu obat dapat menyembuhkan penyakit, maka orang yang sakit akan sembuh dengan seizin Allah.”
“Berobatlah kalian wahai hamba-hamba Allah, kerana Allah Ta’ala tidak menciptakan penyakit melainkan juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja yaitu penyakit tua.” Sunan Abu Daud. Menurut Syaikh Al-Albany, ini hadits shahih. Lihat Shahihul-Jami,2930.
Dari Ibnu Abbas ra., bahwa ada seorang lelaki bangkit menghampiri Rasulullah SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah berobat ada manfaatnya, toh sudah ada takdir?” Rasulullah SAW menjawab, “Obat juga termasuk takdir. Ia bermanfaat bagi siapa pun yang dikehendakinya dengan apa yang dikehendakinya.” Shahihul-Jami’ Al-Albany,3416. Syaikh menghasankannya. Nabi telah menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang komplit dan tuntas: “ Semua obat-obatan itu, ruqyah dan imunisasi adalah termasuk takdir Allah.” Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Takdir Allah dapat berubah dengan takdir-Nya pula. Perubahan itu sendiri juga termasuk takdir-Nya. Maka tidak ada jalan untuk keluar dari takdir-Nya dengan cara apapun. Ath-Thibb An-Nabawy
Kesembuhan
Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Kesembuhan ada pada tiga macam: Minum madu, sayatan alat hijamah atau sundutan api. Namun aku melarang umatku melakukan sundutan api.” Shahih Al Bukhary,5680.
Al Bukhary meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa dia pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “ Dalam Habbatus Sauda’ terkandung kesembuhan untuk segala penyakit,kecuali as-sam.” Aku bertanya, “Apa as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian.” Shahih Al Bukhary, 5687
“Tidak ada satu pun penyakit melainkan dalam habbatus sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali kematian.” Shahih Muslim, 2251 Manakah Ilmu Kedokteran dan manakah Dokter? “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberikan kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)
Manakah Ilmu Kedokteran dan manakah Dokter?
Ada seseorang pernah berkata kepada Nabi SAW, “Aku adalah orang yang dapat mengobati.” Maka beliau bersabda, “Allahlah yang dapat mengobati. Yang lebih tepatnya, engkau adalah rafiq (pendamping), sedangkan yang mengobati adalah yang menciptakannya.” As-Silsilah Ash-Shahihah, 1537. Al-Albany menshahihkannya. Diriwayatkan Abu Daud, 3674 dan Ahmad, 16843.
Ilmu Kedokteran dan penyembuhan termasuk salah-satu sebab kesembuhan. Sementara kita diwajibkan untuk mengambil sebab. Sebab penyembuhan yang paling agung dan akurat adalah berasal dari wahyu langit, yaitu pengobatan ala-Nabi yang mulia, Ath-Thibbun-Nabawy Asy-Syarif. Pengobatan harus didasarkan kepada Aqidah Islam. Dengan kata lain, bahwa Allah yang menguasai alam ini, bahwa di Tangan-Nyalah terdapat kesembuhan, bahwa Dialah yang memberikan kesembuhan atau menahannya bagi manusia.
Ibrahim Alaihis-Salam berkata, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (Asy-Syu’ara’:80). Beliau menetapkan dan menegaskan satu hakikat dan aqidah yang tidak boleh lepas dari hati orang Muslim.
Ath-Thibb An Nabawy (Pengobatan ala-Nabi)
Ibnu- Qayyim berkata, “Pengobatan ala- Nabi tidak seperti layaknya pengobatan para ahli medis. Pengobatan ala-Nabi dapat diyakini dan bersifat pasti, bernuansa Ilahy, berasal dari wahyu dan misykat nubuwah serta kesempurnaan akhlak. Sementara pengobatan lainnya lebih banyak bersifat praduga, kira-kira dan berdasarkan eksperimen. Lain halnya dengan pengobatan ala- Nabi, yang keefektifannya langsung diterima, disertai dengan keyakinan akan kesembuhannya dan kesempurnaan penerimaannya berdasarkan iman dan kepasrahan.
Al-Quran menjadi kesembuhan bagi penyakit di dalam dada, jika tidak diterima dengan cara itu, maka ia tidak akan menyembuhkan penyakit di dalam dada.
Nabi SAW Menjelaskan Obat Kepada Orang Lain
Penjelasan Nabi SAW tentang obat di hadapan orang yang sakit, berdasarkan wahyu yang beliau terima.
Firman Allah, “Dan tiadalah yan diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:3-4)
Pengobatan ala-Nabi tiada lain merupakan wahyu yang berasal dari Ath-Thabib Azza wa Jalla, disampaikan kepada Al- Habib Nabi SAW
Ibnul Qayyim berkata, “Membandingkan pengobatan para pakar pengobatan dengan pengobatan Rasul Allah SAW, sama dengan membandingkan pengobatan orang-orang yang lemah dengan pengobatan mereka. Para pemuka mereka pun sudah mengakui hal ini. Pengetahuan yang mereka miliki tentang pengobatan, ada yang berkata bahwa itu merupakan analogi, eksperimen, ilham, mimpi atau perkiraan yang kebetulan tepat.
Mana mungkin hal ini dapat disejajarkan dengan wahyu yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dengan disertai penjelasan tentang hal-hal yang bermanafaat dan bermudharat? Membandingkan ilmu yang mereka miliki dengan wahyu ini, sama dengan membandingkan ilmu yang mereka miliki dengan apa yang disampaikan para nabi. Bahkan di sana ada obat-obat yang berasal dari penjelasan wahyu, yang memberikan pengaruh positif terhadap kesembuhan, yang tidak dapat disamai ilmu dokter yang paling pakar sekalipun, tidak pula disamai analogi dan eksperimennya. Kami sudah pernah mencoba hal ini, juga teman-teman kami, yang ternyata memberikan pengaruh yang tidak dapat dicapai obat-obatan macam apa pun. Ath-Thibb An-Nabawy, hal 11-12. Pentingnya Penyembuhan Dengan Al-Quran Dan As-Sunnah
Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Quran dan dengan apa yang ditegaskan oleh Nabi SAW berupa Ruqyah (Ruqyah jama’nya adalah ruqaa, yaitu bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’I (yaitu berdasarkan pada riwayat yang shahih, atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama)
Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Fushilat:44)
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Israa’: 82)
Pengertian “dari al-Quran”, pada ayat diatas adalah al-Quran itu sendiri. Karena al-Quran secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana disebutkan ayat di atas.
Obat Dan Penyembuhan Yang Dilarang Nabi SAW
Firman Allah, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr:7) Meskipun Nabi SAW sudah melarang melakukan penyembuhan denga hal-hal yang diharamkan dan obat-obat yang kotor, buruk dan beracun, toh masih ada orang di zaman sekarang yang menyalahi sabda beliau , lalu dia melakukan penyembuhan dengan hal-hal yang diharamkan, seperti penggunaan racun ular atau dengan menggunakan bagian-bagian tubuh binatang yang diharamkan.
Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada sesuatu yang diharamkan atas kalian.” Diriwayatkan Abu Daud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Al-Albany menshahihkannya.
Dari Abu Hurairah ra., Dia berkata, “Nabi SAW melarang penggunaan obat yang buruk.” Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’y. Al-Albany menshahihkannya dalam Shahihul-Jami’, 6878 Yang dimaksudkan buruk atau al-khabits di sini ialah obat yang beracun atau racun itu sendiri.
Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menghisap racun, maka racunnya ada di tangannya dan dia akan menghisapnya di neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.” Muttafaq Alaihi;Al Bukhary,5778;Muslim,109.
Siapakah Selain Allah yang Mampu Memenuhi Keperluan Orang yang Berdoa untuk Mengenyahkan Kesulitan?
Firman Allah, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingat (Nya)?” (An-Naml: 62)
Wahai saudaraku karena Allah, ketahuilah bahwa berdoa disertai keyakinan, sabar dan ridha menjadi sebab kesembuhan, bahkan itu merupakan kesembuhan yang paling kuat. Dari Salman Al-Farisy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahahidup dan Maha Pemurah. Dia malu sekiranya ada seseorang menengadahkan kedua tangannya, menarik tangannya dalam keadaan hampa tanpa hasil.” Diriwayatkan At-Tirmidzy, disebutkan dalam Shahihul-Jami’,1757, ini hadits shahih
Firman Allah, “Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah:186)
Demi Allah, siapa yang berdoa kepada Allah dengan disertai keyakinan doanya akan dikabulkan, tanpa merasa memerlukan selain Allah, menghampiri pintu Allah dan mengetuknya, menelungkup di hadapan-Nya, niscaya Allah akan memenuhi segala keperluannya, dan itulah yang pasti terjadi.
Kesembuhan yang Berasal dari Wahyu Penutup Para Nabi
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya.” Shahih Muslim,2204
“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat baginya.” Shahihul-Jami’,5558. Ini hadits shahih
“Dzat yang menurunkan penyakit, juga yang menurunkan kesembuhan menurut kehendak-Nya.” Diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, disebutkan dalam Shahihul-Jami’,1688. Ini hadits shahih.
Sesungguhnya penyakit adalah sebagian dari hakikat. Begitu pula kesembuhan. Tapi analisis dan diagnosis terhadap jenis-jenis penyakit, merupakan perkara yang tidak mengenal kata akhir.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.” Shahih Muslim, 1015 Setiapkali Allah meninggalkanperkara yang baik, maka Dia juga meletakkan jalan dan caranya. Karena itulah Dia mengutus kekasih-Nya, Muhammad SAW agar menerangi jalan di hadapan kita dengan petunjuk Al-Kitab dan As-Sunnah, agar kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki roh yang baik.
Berikut ini beberapa obat-obatan alami yang ditunjukkan oleh al Qur’an dan as Sunnah seperti madu, habbatus sauda (jintan hitam), air zam-zam dan minyak zaitun yang insya Allah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan izin Allah Ta’ala : Pertama, madu. Allah Ta’ala berfirman, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An Nahl : 69) Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu dalam pisau pembekam, meminumkan madu, pengobatan dengan besi panas (kayy). Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas” (HR. al Bukhari no. 5681) Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, “’Alaykum bisy syifaa-ayna al ‘asali wal qur-aani” yang artinya “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, madu dan al Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan al Hakim dalam Shahih-nya, beliau berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan sistem periwayatan al Bukhari dan Muslim”, dan disetujui oleh adz Dzahabi. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu secara marfu’) Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah mengatakan, “Madu memiliki banyak khasiat. Madu dapat membersihkan kotoran yang terdapat pada usus, pembuluh darah, dapat menetralisir kelembaban tubuh, baik dengan cara dikonsumsi atau dioleskan, sangat bermanfaat untuk lanjut usia dan mereka memiliki keluhan pada dahak atau yang metabolismenya cenderung lembab dan dingin” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 42-43) Kedua, habbatus sauda (jinten hitam). Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam habbatus sauda’ (jinten hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian” (HR. al Bukhari no. 5688 dan Muslim no. 2215, ini lafazhnya Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu) Jinten hitam atau al Habbah as Sauda ini dikenal juga sebagai Syuwainiz dalam bahasa Persia, disebut juga Kammun hitam atau Kammun India, disebut juga dengan biji al Barakah. Dari biji ini bisa dibuat minyak yang berkhasiat mengobati batuk, membantu pencernaan, menghilangkan masuk angin dan sejenisnya. Namun saat ini, biasanya jinten hitam ini dikonsumsi dalam bentuk pil. Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata, “Jinten hitam memiliki banyak sekali khasiat. Arti sabda Nabi, ‘obat dari segala jenis penyakit’, seperti firman Allah, ‘Menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb-nya’, yakni segala sesuatu yang bisa hancur. Banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenis. Jinten hitam memang berkkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 365) Ketiga, air zam-zam Dari Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Air zam-zam itu penuh berkah. Ia makanan yang mengeyangkan (dan obat bagi penyakit)” (HR. Muslim IV/1922, yang terdapat di dalam kurung adalah menurut riwayat al Bazzar, al Baihaqi dan ath Thabari dan sanadnya shahih, lihat Majma’uz Zawaa-id III/286) Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menceritakan pengalamannya berkaitan dengan cara menyembuhkan penyakitnya dengan air zam-zam yang dikombinasikan dengan metode ruqyah dari al Qur’an ini, “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat al Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahu kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat” (Zaadul Ma’aad IV/178 dan al Jawaabul Kaafi hal. 23) Keempat, minyak zaitun. Allah Ta’ala berfirman, “ … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah Barat” (QS. An Nur : 35) Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Makanlah oleh kalian minyak (zaitun) dan poleskan dengannya, karena sesungguhnya minyak (zaitun) itu dari pohon yang diberkahi” (HR. Ahmad III/497, at Tirmidzi no. 1851 dan Ibnu Majah no. 3319, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih at Tirmidzi II/166) Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah mengatakan, “Minyak yang dihasilkan dari buah zaitun yang sudah masak adalah yang terbaik dan paling stabil” (Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, hal. 387) Beliau (Ibnu Qayyim al Jauziyah) juga menjelaskan (pada halaman yang sama) bahwa minyak zaitun berkhasiat mengatasi racun, melapangkan perut, dan memperkuat gusi. Daunnya berkhasiat menghadapi demam, kesemutan, koreng, mencegah keringat berlebih dan banyak lagi khasiat lainnya. Sumber Bacaan : Doa dan Wirid, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan Keenam, DzulHijjah 1426 H/Januari 2006 M. Metode Pengobatan Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa Sallam, Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, Griya Ilmu, Jakarta, Cetakan Kedelapan, Muharram 1428 H/Januari 2007 M. Ruqyah Mengobati Guna-guna dan Sihir, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta , Cetakan Kedua, Muharram 1426 H/Maret 2005 M.
BEKAM | Paket Bekam | Titik Bekam | Biaya | Panggilan | Tambahan | | Bekam Inti | 9 titik | Rp. 50.000,- | Rp. 65.000,- | 1. Praktek setiap hari dengan perjanjian. 2. Tambahan per titik Rp. 10.000,-. | | Bekam Standard | 13 titik | Rp. 90.000,- | Rp. 105.000,- | | Bekam Terapi | Disesuaikan | Disesuaikan | Disesuaikan | PRODUK LEBAH · CLOVER HONEY 0,5 Kg : Rp. 130.000,- · CLOVER HONEY 1 Kg : Rp. 230.000,- · PROPOLIS 60 TAB/CAPS : Rp. 190.000,- · ROYALE JELLY LIQUID 150 Gr : Rp. 300.000,- · ROYALE JELLY 30 TAB : Rp. 100.000,- · ROYALE JELLY 90 TAB : Rp. 220.000,- · POLLENERGY 90 TAB : Rp. 160.000,- · HONEY BEE POLLEN 30 TAB : Rp. 65.000,- · HONEY BEE POLLEN 90 TAB : Rp. 130.000,- · ALLER BEE GONE 48 TAB : Rp. 230.000,- · ALLER BEE GONE 144 TAB : Rp. 400.000,- HABBATUSSAUDA’ 200 CAPS : Rp. 35.000,- BIOELEKTRIK Catatan : · Pemesanan via SMS (Nama, Alamat, Produk, Jumlah) · Pembayaran: BNI cab Unpad No.Rek. 0118921190 atau Bank Syariah Mandiri cab. Bandung No.Rek. 0077037159 · Biaya = biaya produk + ongkos kirim (luar Bandung) · Produk dikirim setelah pembayaran & pemberitahuan Anda via SMS RUMAH THERAPY “SYAFAKALLAH” Bekam, Produk Lebah (Madu, Propolis, Royaljelly, Bee Pollen), Habbatussauda’, Bioelektrik Phone : 081910259496 ; 081320587360 E-mail : syafakallah@yahoo.co.id Site : www.syafaka4wl.multiply.com
 | Promo | Feb 25, '08 6:45 AM for everyone |
BEKAM “SOLUSI KESEHATAN WARISAN RASULULLAH SAW” “Wahai Orang-Orang Beriman, Sambutlah Seruan Allah Dan Rosul, Ketika Menyeru Kalian Kepada Apa Yang Menghidupkan Kalian…” (Al-Anfâl [8] : 24) “Pada Malam Aku Di-Isra'kan, Aku Tidak Melewati Sekumpulan Malaikat Melainkan Mereka Berkata, "Wahai Muhammad Suruhlah Umatmu Melakukan Bekam." (HR Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, Shahih Jami'us Shaghir 2/731) "Jika ada yang bisa mencapai penyakit, maka bekam pun bisa mencapainya." (HR Malik RA dalam Al Muwaththo') Bekam merupakan metode pengobatan dengan cara menghisap darah kotor yang mengandung penumpukan penyakit, yang menyebabkan pemusatan dan penarikan darah di sana, lalu dilakukan penyayatan kulit dengan suatu alat (silet atau jarum), dan mengeluarkannya dari permukaan kulit. Berbagai penyakit yang bersifat kronis ataupun akut insya Allah bisa tersembuhkan dengan terapi bekam, dengan izin Allah. Di antara penyakit tersebut adalah Anemia, Arterosklerosis, Asam Urat, Asma, Berbagai Jenis Sakit Kepala, Diabetes Mellitus, Ginjal, Hepatitis, Hipertensi, Keracunan, Penyakit Jantung, Penyakit Paru-Paru, Stroke, dan lain-lain. RUMAH THERAPY “SYAFAKALLAH” didirikan untuk membantu sesama dalam memperoleh kesembuhan dengan menerapkan salah satu sistem terapi warisan Rasulullah SAW. Silahkan hubungi kami atau kirim SMS (Nama, Umur, Alamat, Keluhan/Penyakit), Insya Allah, KAMI SIAP DATANG KE RUMAH MEMBANTU ANDA, dengan seizin Allah SWT. | Paket Bekam | Titik Bekam | Biaya | Panggilan | Tambahan | | Bekam Inti | 9 titik | Rp. 50.000,- | Rp. 65.000,- | 1. Praktek setiap hari dengan perjanjian. 2. Tambahan per titik Rp. 10.000,-. | | Bekam Standard | 13 titik | Rp. 90.000,- | Rp. 105.000,- | | Bekam Terapi | Disesuaikan | Disesuaikan | Disesuaikan | RUMAH THERAPY “SYAFAKALLAH” Bekam, Produk Lebah (Madu, Propolis, Royaljelly, Bee Pollen), Habbatussauda’, Bioelektrik Phone : 081910259496 ; 081320587360 E-mail : syafakallah@yahoo.co.id Site : www.syafaka4wl.multiply.com
Sehat Jiwa Raga Cara Islam - Seni Berjampi.pdf (359 KB)
Konsep Perubatan Islam.pdf (434 KB)
Mukjizat Siwak.pdf (137 KB)
Siwak Kejaiban dalam Sunnah Nabi.pdf (127 KB)
ruqyah syariyyah.zip (1005 KB)
Dr Ahmed El-Kadi With the growing for the restoration of Islamic values, there is increasing demand on Muslim scientists to restore and develop the Islamic sciences. It is essential, however, for the Muslim scientist to have a clear and sound understanding of the science he is expected to restore and develop. The majority of Muslim health professionals have no clear idea as to what Islamic medicine is. Even the ones who have an idea may differ in their concept and definition of Islamic medicine. What is Islamic medicine? Is it the old medicine, still being practiced by some Hakims in the east? Is it natural medicine utilizing mostly herbs,diets, and lifestyle adjustment? Is it a medicine limited to the health related teachings found in the Qur'an and the prophet' s tradition? Is it primarily faith-healing and prayers for the sick? Is it customary medicine given an ills? None of the above is in itself Islamic Medicine, but all together, and a great deal more, are its ingredients. According to Islamic teaching, God has made available a treatment for every illness He has Created. This teaching implies that every available a treatment for every known to us should be utilized, and that if a treatment for a certain illness is not yet known to us, it is our duty to search for it until we find it. Therefore Islamic medicine cannot be limited to any branch of the healing arts which does not have the answer, or at least the potential to have the answer, to all illnesses. The treatment in question may be spiritual or physical exercise, nutritional adjustment, pharmaceutical preparation, be it all natural ingredients or purely synthetic, surgical procedure, radiation therapy,or a combination of any of these modalities. Although Islamic Medicine may include, among many others, all the modalities of modern medicine, it differs from modern medicine in that it fulfills all the following six criteria: it is excellent and advanced compared to other brands of the healing arts: it is a medicine based on faith and Divine ethics: it is guided and oriented, it is comprehensive. paying attention to the body and the spirit, to the individual and the society, it is universal, utilizing all useful resources, and offers its services to all mankind: and last, but not least, it is scientific. While modern medicine proclaims these criteria; i.e. to be excellent. ethical, oriented, comprehensive, univerrsal, and scientific, it has failed to fulfill any of them .An examination of modern medicine with regard to these six criteria will show how poorly it rates Statistics from the United States of the last decade will be used as representative of modem medicine. The first criterion is excellence performance of modern medicine will be evaluated according to its ability to save life. to eradicate or control disease,and to improve personal well- being. Modern medical statistics may give the impression that the average age of the population has been extended, and that more lives are being saved. A key figure in mortality statistics is infant mortality since it affects total mortality figures and also the average age of the population. Infant mortality For 1978 is presented as 22,010, which is a great improvement over the 43,205 reported for 1970. For some reason, however, modern medical statistics completely ignore the huge figure of 1,150,776 babies who died in 1978 during their first nine monthof life, and who were classified as abortion and not as a mortality. This 1978 figure represents an almost 600% increase over the 1970 figure of just 193.491. Counting all dead babies will change infant mortality numbers from 1,172.786 in 1978 as opposed to just 236,696 in 1970. As to mortality due to other leading causes of death, the progress made by modern medicine in some areas was almost cancelled out by the deterioration in other areas (Table I). All areas combined, but without counting abortions, the mortality figure of 1,809,818 in 1970 decreased to 1,776,390 in 1978, or a meager 18% improvement. Counting abortions, true total mortality was 2,003,309 in 1970 and 2,927,166 in 1978, or a 46% difference. As to eradication or control of disease, modern medicine has made a few steps forward in a few areas, and many more steps backward in other areas (Table 2). The total incidence of the so-called dangerous diseases has increased from 1,065,012 in 1970 to 1,281,952 in 1978, or a 20% difference of disease control over an eight-year period. The ability of modern medicine to improve personal happiness and well-being also declining as can be seen by the increasing incidence of suicide, 23,480 in 1970 to 27,500 in 1978 (2), and the soaring incidence of divorce, 708,000 in 1970 to 1,128,000 in 1978.(2) It is obvious, with these poor performance figures, that modern medicine does not fulfill the first criterion of excellence. The second criterion of Islamic Medicine is that it is involved with faith and Divine ethics. All evidence indicates that moder medicine has no faith in God as the Supreme authority and that modern medical ethics are by no means Divine. Modern medicine approves of the termination of the life of an innocent human being just for the convenience of another human being; it approves of premarital or extra-marital relations; it approves of homosexual relations; and it sees no harm in providing alcohol in the great majority of liquid medicinal preparations. All these are clear violations of God's teachings, and these are just a few of many examples. The supreme authority in modern medicine is the consensus of the majority of physicians, opposing God's opinion on a given subject. The third criterion of lslamic Medicine is that it is guided and oriented. Examination of current medical practices proves that modern medicine is quite misguided and disoriented. The philosophical foundation of modern medicine is confused and lacks sound logic. Modern medicine is trying to save all the lives it can save, but is willing to destroy the lives of millions and millions of unbom babies. Modem medicine recognizes electrical brain activity as a sign of life and would not dispose of any person as long as this activity is present. However, it is willing to dispose of huge numbers of unborn babies even though they have electrical brain activity. Modern medicine proves beyond any doubt that alcohol is hazardous to health, but is willing to add alcohol to most of the liquid medicinal preparations although a substitute is within reach. Modern medicine is very quick to accept the request of young females for permanent sterilization, then it goes to painstaking lengths to restore fertility in the very same young females who later discover that their initial decision was wrong and that they do not want to be sterile. Modern medicine claims to be doing its best to prevent the development or the spread of disease,it does not at all discourage and may actually, directly or indirectly, encourage certain socio- sexual behavior and attitudes which have proven to lead to the development and spread of disease. Modern medicine claims to be the most ethical profession, but it shows no hesitation in violating and ignoring the Divine ethical rules. The fourth criterion of Islamic Medicine is that it is comprehensive, paying attention to body and spirit, the individual and society. Examination of our modern medicine will show that its approaches are usually one-sided and inadequate, leading in many instances to disastrous consequences. Modern medicine has been greatly concerned with the physical growth of young children while it ignores the needs of their ethical upbringing and spiritual growth. This deficient approach has resulted in a large number of these children growing to be victims of drug abuse and juvenile delinquency, a frightening problem of epidemic proportions. Modern medicine has promoted sex education but has ignored the proper ethical and moral restrictions which should be included in such programs. This has resulted in an increase in the number of unwanted pregnancies, an increase in the number of illegitimate children, and a soaring rise in the incidence of venereal disease, as well as marital problems and unhappy families -- results which are exactly the opposite of what was intended from the sex education programs. Modern medicine has fairly advanced knowledge of the physical components of peptic and cardiovascular disorders and also of ways and means of dealing with these components. The incidence of these disorders, however, is still quite high due to the lack of consideration and attention given to the spiritual and social needs of the patient and which may be playing an important role in the etiology of the disease. The same one-sided approach is manifest at the level of basic science and clinical research. Considerable time, energy, and money are spent on the physical aspects of disease while very little, if any, attention is paid to the spiritual and ethical aspects, be they the cause or the results of the somatic diseases. The fifth criterion of Islamic Medicine is that it is universal, utilizing all useful resource and offering its services to all mankind. Such a medicine must be willing to look into any potentially useful treatment modality, subject it to proper investigation, and utilize it if it proves to be useful. Modern medicine, however, seems to be quite reluctant to become involved with any treatment modality which does not originate from its own schools Although some of these "non- conventional" treatment modalities may be effective and may have already passed the test of centuries and proved to be successful, modern medicine would look on them with suspicion or even with prejudiced condemnation rather than approach them with inquisitiveness and an open- minded investigative spirit. As a result of this restrictive attitude, modern medicine is missing a great deal of good ideas which could provide simple, safe, and inexpensive treatment for many disorders. The sixth criterion of Islamic medicine is that it is scientific. The last thing one would expect is to declare modern medicine non-scientific. Unfortunately, it is. There are certain requirements which have to be met for it to be scientific. These requirements, just to mention a few, include honesty in handling available data, accuracy of figures and statistics, thoroughness in considering all variables, consistency, and some clarity of purpose. Critical examination of modern medicine shows that it fails to fulfill these criteria. There is no clarity of purpose because of the numerous conflicting and contradictory practices and attitudes. There is no consistency of philosophy and policy as was demonstrated earlier in this discussion. Many variables are often ignored, many statistics lack accuracy, and consequently wrong conclusions are often reached. The fact that modern medicine is afflicted with increasing mortality and increasing incidence of disease in spite of all the technological advances, is not reasonable and does not make sense. It indicates that there must be something missing. The big question is: Can Islamic Medicine overcome all the problems of modern medicine, and can it provide its missing ingredients? The answer is a confident yes. In all the and moral guidance, lack of a standardized value system, disregard of certain restrictive or instructive rules related to ingested materials, or disregard of certain hygienic and social guidelines governing human relations and social life. These missing items are the very ones abundantly provided by Islamic teachings. The detailed elaboration on the correlation between various Islamic teachings and the course or development of various diseases is beyond the scope of this paper and will be the subject of separate investigations. The combination of Islamic teachings and the existing technological advances, which are fully supported by the Islamic teachings, Produces a unique blend of healing arts which qualifies as Islamic Medicine, a medicine which is most up-to-date and progressive while in full harmony with Divine teachings and guidance. The basic Islamic teaching asserting that there is a cure for every illness (and it is up to us to find it) is an unbeatable stimulus for study and research towards unparalleled progress and achieve ment. The establishment of such a healing art entails the total re-evaluation and revision of all existing basic and clinical sciences. will reflect the link between the Creator and His creation, thus rein forcing the concept of Oneness of God (Tawheed) and automatically improving the faith of the student through his own professional study. These tests and curricula will also reflect the oneness of creation by show ing how the Various systems of animated and non-animated creatures follow very much the same laws of nature, or better stated, laws of God, thus broadening the horizon of the student which will in turn make him a better scientist and a better person. It will be a monumental task to establish, but a task worth undertaking.
Hasan Ghaznawi, M. D. lslam is the religion of all times and places.It is a perfect system of temporal values. By practicing its laws Muslims all over the world not only attain spirituality but the pinnacle of all other glories and gain the wealth of health.
There is a great inter-relationship between modern medicine and some of our Islamic teachings.
Every word of Qur'an is in fact an experience of great reality and science is just an effort made towards this reality. Knowledge is limitless and its horizons are constantly expanding with every strike of progress disclosing fresh informations and according to Qur'an knowledge is a comprehensive text and it involves all branches of science, religion, technology, agriculture, engineering and medicine. It is definitely a miracle of our sacred religion that it expands on all branches of human knowledge. This is known from the following quotation from Qur'an:
"We have revealed to you the Scripture so that it might be a clear evidence for every thing."
In the following paper I have tried to elucidate that the guide lines given in the Quran and Sunnah concerned with the promotion of physical health of humans have been duly proved by years of modem medical science research all over the world. Some of them I am going to deal with in this paper.
PRAYERS: In Sura Moon "God deprecates those who are careless in their prayers offer them only for show." The blessed Prophet told us "Prayers are certainly health promoting." Although the real purpose of prayers is the worship of God yet there is a large number of additional benefits also.
EXERCISE:As we eat three times daily we need exercise to lessen the cholesterol in the body which increases in blood after meals, thickens blood and leads to the deposition of slit in the arteries.
In addition to saving us from the sins and elevating us to the heights of spirituality prayers are great help in maintaining our physical health. They keep our body active, help digestion and save us from muscle and joint diseases through regular balanced exercise. They help the circulation of blood and also mitigate the bad effect of cholesterol. Prayers play a vital role in acting as a preventive measure against heart attack, paralyses, premature senility, dementia, loss of control on sphineters, diabetes mellitus etc.
Collateral circulation plays a major role in decreasing the danger of heart attack in patients. Patients above 55 years of age in which this type of circulation is developed have less severe attacks. It is possible to speed up the development of collateral circulation by regular and balanced exercises which is present in the prayers are not only potent, preventive measure against coronary heart diseases but also help in the development of collateral circulation in those people who have already suffered from a heart attack or are prone to it.
Heart patients should offer-the five obligatory prayers regularly as they get the permission from their doctor to leave bed.
The arrangement of prayers is such that those at the time of empty stomach are brief but those after meals are longer and give more exercise to the body.
During the month of Fast (Ramadan) the additional twenty Rakaat (Tarawih) are added to the late evening prayers because more than normal food is usually consumed after breaking fast.
The performance of prayers put almost all muscles of the body in action. Different groups of muscles are activated while performing prayers. During Sajda blood supply to the brain is improved. One of the useful methods to strengthen the muscles of the knee joints to mitigate the strain on knees in osteo arthritis is the regular exercise of these muscles during prayers.
HEART:This vital organ of the body has to be always healthy and efficient as it is responsible for the circulation of blood. Diseased heart results in deterioration of the healthy body. This knowledge we obtained after centuries of scientific research yet it was simply told to us fourteen hundred years ago by our great Prophet (peace be upon him).
"Verily in the body there is such apiece of flesh that if it remains alright the whole body keeps well but if this piece of flesh develops some defect the whole body becomes unhealthy. Behold,- this piece of flesh - it is heart." (Bokhari, Muslim ... SIESTA:It was the habit of our blessed Prophet to sleep for a while after lunch, his companions also followed this practice. This short nap gives relief to the vital organs of the body like heart and brain.
MODERATION IN FOOD:Both Qur'anand Hadithhave touched this topic, Qur'antells us in Ayah 30 of Sura Al Airaf:
"O children of Adam, look to your adornment of every place of worship and eat and drink but not prodigal Lo! He loveth not the prodigals."
Strenthening this order, the Prophet has strictly forbidden over eating in the following Haith:
"It is enough to eat few morsels of food to keep one's back straight."
"If you must eat more, be sure that only one third of your stomach is filled with food, one third is left for water and the remaining one third for air."
"A Muslim eats in one intestine (stomach) whereas a non believer eats in seven intestine."
It has been proved beyond doubt that over eating is the root of many diseases and also responsible for premature senility. It produces obesity, predisposes to dangerous diseases like diabetes, Menitus, hypertension, coronary heart disease and paralysis.
DIABETES MELLITUS:This is due to insulin deficiency. Overeating gets the special cells of the pancreas (islets of Langerhans) over worked so it cannot meet the increased demand for insulin . Those cells may get tired, atrophy and causes difficiency of insulin .
PARALYSIS, CORONARY HEART DISEASE & PREMATURE SENILITY:Their basic course is the narrowing of the coronary arteries. Paralysis is the natural result of blocking of an artery in the brain, should this happen in the heart Myocardial infarction results. Premature senility is installed when majority of the arteries in the body get narrowed.
Slit in the form of cholesterol and triglycerides is deposited in the arteries. Over eating increases blood cholesterol levels. Pork and beef contain high cholesterol values while on the other hand birds have the least amount. Qur'an mentioned that birds meat is one of the specialties of Paradise.
Olive has been repeatedly mentioned in Qur'an, and statistics shows that heart attacks occur more in Northern Italy where they use butter and margarine for cooking than in Southern Italy where olive oil is generally used.
Patients suffering from narrowing of the coronary artery usually develop the heart attack after a heavy meal.
FORBIDDEN ARTICLES OF FOOD: 1. Blood:Ingested blood on reaching the intestine is acted upon by various bacteria normally present there resulting in poisonous products like ammonia which is toxic to the liver.Therefore,God has forbidden us to eat or drink blood and has prescribed such a method for slaughtering animals that most of their blood is shed.
2. Pork:There are two harmful worms harbored by pigs, one is "TAENIASOLIUM" which on ingestion passes to the brain and causes epilepsy. The other one is"TRICHINELLASPIRALIS"which passes to the muscles and brain causing muscular swelling and pain and also epilepsy. Pork has more fat and cholesterol than any other meat.
3. Alcohol:Numerous diseases have been attributed to alcohol like dyspeptic trouble, peptic ulceration, cancer stomach, pancreatitus, cirrhosis liver, vitamin deficiency and coronary heart disease.
CIRCUMCISION:One of the criteria of Islam is that every Muslim should be circumcised. This is medically suggested now a days as a toxic substance called Smegma may collect under the redundant skin causing cancer of the genitalia in both man and his wife, inflammation of the penis, phthisis, sticking of the redundant skin over the urethral opening leading to difficulty in urination.
WASHING AFTER DEFECATION:This beneficial habit saves us from Pilonidal sinus which is an abscess with hair inside occurring near anal opening.
Pylonephritis: This is more in women due to the proximity of the urethral opening to the anus so toilet paper while being used may bring germs like E. coli to the urethra.
ABOLUTION:A pre requisite of prayers yet one of the most hygienic procedure as it usually keeps the exposed parts of our body clean and also the parts of entry like mouth and nose thus avoiding Infection.
PREVENTION OF INFECTION:Infection may be transmitted through dirty hands or dirty food. Hands: It is essential to wash our hands before and after meals. Our blessed Prophet told us:
"It is a blessing to wash your hands before and after meals" (Abu Daud & Tirmizi)
He has also advised us not to clean our hands with a towel before meals as they may convey infection from one person to the other particularly viral diseases like infective hepatitis or bacterial infection like Typhoid dysentries and cholera.
Or Prophet said "Whosover gets up from slumber should not dip his hand in any utensil unless he washes them three times, who knows what things he has been touching during sleep." (Bokhari, Muslim, Abu Dawood, Nisai)
ARTICLES OF BEVERAGES:These articles should be handled with great care. If the food is in open utensil they should be covered to avoid contamination. Stressing this our Prophet said "Cover up the utensils and tie the mouth of the water skins." (Bokhari, Muslim)
He said, "Why did you not cover the utensil carrying the milk even if-it was with a piece of wood."
DENTAL HYGIENE:Particular stress has been laid by our Prophet on this as it is very important in the prevention of disease. He attached great importance to "Miswak" a twig of a tree used for brushing teeth. "If I had not thought this to be an unbearable hardship for my followers I would have prescribed the use of Miswak before every prayers." (Bokhari, Muslim)
According to modern dentistry the best method of using a Miswak or a tooth brush is up and down the length of the teeth and this exactly the way our Prophet used his Miswak.
KHILLALA:The blessed Prophet said "Whosoever eats should pick bits and pieces from in between his teeth."
It is beneficial act so that those do not rot and produce disease.
HEATSTROKE:Covering the head and neck as our Prophet used to do, mitigate the danger of hyperpyrexia which is due to imbalance of the heat control centre situated in the hind brain, which may lead to death.
TREATMENT OF FEVER:Death occurs if the temperature of the body exceeds 106 degrees irrespective of the cause. Medically speaking the first line of treatment is to lower the temperature by cold water, ice sponging or even immersing the patient in cold water. On this Prophet said:
"The fever is related to the Hell. Application of cold water keeps it away." (Ibne Maja)
CONSTIPATION:The blessed Prophet advised that while defaecating keep pressure on the left foot (Tibrani). In squatting position this maneuvers will cause pressure on the descending colon. Medically this helps evacuation of feaces from the descending colon thus relieving constipation, particularly when muscles of the abdomen are weak.
DISEASES OF DIGESTION:Several Hadiths pertaining to this were said:
"It is unbecoming to eat in the Bazar (Market)." "Whosoever eats earth aid his death." (Tibrani) " Use curry with food even if it is in the form of water. " (Tibrani). "Vinegear is a very good curry." "The best curry is common salt."
Salt depletion through perspiration during summer is increased thus it is obligatory to use common salt during this period.
Our Prophet liked pumpkin (one of the vegetables) as it is easily digested and less likely to produce flatulence.
Our Prophet said. "It is not right to eat your food quickly, besides this one should eat from what lies nearest to one" (Bokhari, Muslim)
EPIDEMIC PREVENTION:Hygiene is very important. Cleanliness prevent infection entering the citadel of human body and this guards us against ill health and epidemics- God ordered our Prophet in Sura Al-Muddassir:
"O, Prophet keep your apparel clean and meticulously avoid filth and rubbish."
Our Prophet said, "God Almighty is himself pure and likes purity, God himself is clean and likes cleanliness." (Tirmizi) "God Abnighty dislikes dust, dirt and disheveled hair." "Avoid three things which are cursed. To urinate at the source of water, in the shade, in the pathways." (ibne Maja) "No one should pass water in standing water." (Bokhari, Muslim, Abu Dawood) "If any one of you yawns,,cover your mouth with hands." (Muslim, Abu Dawood) One should avoid coughing, sneezing, yawning or laughing with fully open mouth near other persons as the breathed out bacteria may spread in the atmosphere and be conveyed to other persons.
STREET AND ROADS:Town planning is based on broad and airy roads so that there is no obstruction to the flow of traffic and to avoid congestion which helps of communicable diseases. Our blessed Prophet fourteen hundred years ago said "keep the breadth of the streets seven arms length. ACUPUNCTURE:Ibis was mentioned in the authenticated Hadith as an effective treatment of several disease. Research work is being carried out in China and other parts of the world to use acupuncture as a method of treatment.
There are other aspects of medicine which have been dealt with in Islam for example:
1. Quacks should not treat patients.
2. Treatment and prevention of disease have been recommended and practiced by the Prophet.
3. When you visit a patient do not stay long.
There are many priceless gems of knowledge in the Qur'an and Hadith from which man can benefit immensely. These are but brief facts of medicine which have been mentioned before in Qur'an and Hadith and there is a lot more to be discovered and studied.
Nabi saw. telah berpesan agar kita mengkonsumsi dan memakai zaitun sebagai minyak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada enam belas pakar kedokteran paling tersohor di dunia berkumpul di Roma pada tanggal 21 April 1997 M, untuk menerbitkan beberapa pengarahan dan keputusan bersama tentang tema “Minyak Zaitun dan Nutrisi Laut Putih Tengah”. Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun bisa memberikan andil melindungi tubuh dari serangan penyakit jantung koroner, kenaikan kolesterol darah, kenaikan tekanan darah, serta sakit diabetes dan obesitas, di samping minyak zaitun juga berkhasiat mencegah terjadinya beberapa jenis kanker. Minyak Zaitun Mengurangi Kolesterol Berbahaya Berbagai riset membuktikan adanya fakta yang tidak menyi-sakan keraguan lagi, bahwa minyak zaitun menurunkan total kadar kolesterol dan kolesterol berbahaya, tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat. Minyak Zaitun Mengurangi Resiko Terjadinya Penyumbatan (Trombosis) dan Penebalan (Arteriosklerosis) Pembuluh Darah Dalam sebuah kajian yang dipublikasikan pada bulan Desember tahun 1999 M di Majalah AMJ CLIN NUTRL para peneliti menyatakan bahwa nutrisi yang kaya kandungan minyak zaitun bisa mengurangi pengaruh negatif lemak dalam makanan terhadap terjadinya pembekuan darah, dan selanjutnya mengu-rangi terjadinya penebalan pembuluh nadi jantung. Minyak Zaitun Menurunkan Angka Kematian Sebuah studi yang dipublikasikan dalam majalah Lanst yang terkenal pada 20 Desember 1999 M, menunjukkan bahwa negara paling miskin di Eropa, yaitu Albania, yang berpenduduk muslim, memiliki keistimewaan sedikitnya angka kematian di sana. Angka kematian di Albania di kalangan pria adalah 41 orang dari setiap 100.000 orang, separoh dari keadaan di Britania. Hal itu dipengaruhi oleh konsumsi minyak zaitun dalam makanan para penduduk Albania. Minyak Zaitun Mengurangi Pemakaian Obat-obatan Penurun Tekanan Darah Tinggi Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Aldovaroro di Universitas Napoli Italia dan dipublikasikan dalam Majalah Archives of Internal Medicine, tanggal 27 Maret 2000 M, telah diadakan studi terhadap 32 pasien yang terkena penyakit tekanan darah tinggi dan mereka itu mengkonsumsi obat-obatan untuk darah tinggi. Hasil studi menunjukkan penurunan tekanan darah dalam kadar 7 poin di kalangan mereka yang mengkonsumsi minyak zaitun. Minyak Zaitun Mengurangi Serangan Kanker Para peneliti menyatakan bahwa sebab menurunnya rasio kematian akibat serangan kanker di Laut Putih Tengah adalah karena makanan penduduk negeri tersebut mengandung minyak zaitun sebagai sumber utama lemak, di samping mengandung sayur-sayuran, buah-buahan, dan kol. Minyak Zaitun Mencegah Timbulnya Kanker Profesor Asman, Ketua Akademi Studi Arteriosclerosis di Universitas Monstar, Jerman, dia merupakan peneliti paling menonjol di dunia di bidang kedokteran dan arteriosclerosis, ia berkata, “Pengkonsumsian minyak zaitun bisa melindungi tubuh dari serangan sejumlah kanker lainnya, di antaranya kanker colon, kanker rahim, kanker ovarium, sekalipun jumlah studi ini masih terlalu minim.” Minyak Zaitun dan Kanker Payudara Sebuah studi yang dipublikasikan di bulan November 1995 dan dilakukan terhadap 2.564 wanita yang terkena kanker payudara, menegaskan bahwa ada korelasi terbalik antara kemungkinan terjadinya kanker payudara dengan pengkon-sumsian minyak zaitun, dan bahwa banyak mengkonsumsi minyak zaitun memberikan andil dalam melindungi seseorang dari serangan kanker payudara. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Majalah Archives of Internal Medicine edisi Agustus 1998 M menegaskan bahwa pengkonsumsian sesendok makan minyak zaitun setiap hari bisa mengurangi bahaya terjadinya kanker payudara sampai pada kadar 45%. Minyak Zaitun dan Kanker Rahim Majalah Kanker Britania mempublikasikan di bulan Mei 1996 M sebuah studi yang dilakukan terhadap 145 wanita Yunani yang terkena kanker rahim. Para peneliti mengkorelasikan antara wanita-wanita yang terkena kanker rahim tersebut dengan wanita-wanita yang banyak mengkonsumsi minyak zaitun. Ternyata, para wanita yang mengkonsumsi minyak zaitun lebih sedikit yang terkena kanker rahim. Di mana kemungkinan terjadinya kanker pada mereka turun sampai 26%. Minyak Zaitun dan Kanker Lambung Sejumlah studi ilmiah modern menunjukkan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun secara teratur bisa mengurangi terjadinya kanker lambung. Tapi masih diperlukan berbagai studi ilmiah lanjutan mengenai hal ini. Minyak Zaitun dan Kanker Colon Ada juga beberapa studi yang menunjukkan bahwa peng-konsumsian buah-buahan, sayur-sayuran, dan minyak zaitun, memainkan peran penting dalam melindungi tubuh dari serangan kanker colon. Minyak Zaitun dan Kanker Kulit (Melanoma) Majalah Dertmatdogg Times edisi bulan Agustus 2000 M menyebutkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa meng-gunakan minyak zaitun setelah renang sebagai krim kulit dan berjemur, akan melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma). Minyak Zaitun Mengurangi Timbulnya Tukak Lambung Dr. Samût, dari Universitas Harvard Amerika, menyampaikan sebuah studi di Kongres Terakhir Organisasi Penyakit Sistem Pencernaan Amerika yang diadakan pada bulan Oktober 2000 M. Dr. Samût menegaskan bahwa gizi yang terkandung dalam minyak zaitun bisa memiliki pengaruh positif dalam melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi timbulnya penyakit tukak lambung. Minyak Zaitun Berkhasiat Seperti ASI Dalam sebuah studi modern yang dipublikasikan di bulan Februari 1996 M di Universitas Barcelona, Spanyol, yang dilakukan terhadap empat puluh wanita yang menyusui, diambil sampel ASI dari mereka. Para peneliti menemukan bahwa kebanyakan lemak yang terkandung di dalam ASI termasuk jenis lemak yang berantai tunggal. Jenis lemak ini dikategorikan sebagai lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi oleh manusia, dan itulah jenis lemak yang terkenal terdapat dalam minyak zaitun. Minyak Zaitun Mengurangi Peradangan Sendi Majalah AMJ CLIN NUTR edisi November 1999 M, mempu-blikasikan sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 145 pasien pengidap sakit persendian semacam arthritis di Yunani Utara. Mereka dikorelasikan dengan 108 orang yang sehat. Dalam penelitian ini terlihat bahwa pengkonsumsian minyak zaitun bisa memberikan andil dalam melindungi tubuh dari terjadinya penya-kit ini. Minyak Zaitun Membunuh Kutu Kepala Beberapa studi yang dilakukan di beberapa Universitas dan Akademi di Amerika, tentang kutu kepala, menunjukkan bahwa penggunaan minyak zaitun sebagai minyak rambut yang terkena kutu, dalam beberapa jam saja bisa membunuh kutu yang ada di kepala.276)
Mungkin ada di antara kita yang pernah mencoba melakukan pengobatan dengan thibbun nabawi dengan minum madu misalnya atau habbah sauda`. Atau dengan ruqyah membaca ayat-ayat Al-Qur`an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak merasakan pengaruh apa-apa. Penyakitnya tak kunjung hilang. Ujung-ujungnya, kita meninggalkan thibbun nabawi karena kurang percaya akan khasiatnya, lalu beralih ke obat-obatan kimiawi. Mengapa demikian? Mengapa kita tidak mendapatkan khasiat sebagaimana yang didapatkan Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ketika meruqyah dirinya dengan Al-Fatihah? Atau seperti yang dilakukan oleh seorang shahabat ketika meruqyah kepala suku yang tersengat binatang berbisa di mana usai pengobatan si kepala suku (pemimpin kampung) sembuh seakan-akan tidak pernah merasakan sakit? Di antara jawabannya, sebagaimana ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu yang telah lewat, bahwasanya manjurnya ruqyah (pengobatan dengan membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur`an) hanyalah diperoleh bila terpenuhi dua hal: Pertama: Dari sisi si penderita, harus lurus dan benar niat/ tujuannya. Kedua: Dari sisi yang mengobati, harus memiliki kekuatan dalam memberi bimbingan/arahan dan kekuatan hati dengan takwa dan tawakkal. Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: “Ada hal yang semestinya dipahami, yakni zikir, ayat, dan doa-doa yang dibacakan sebagai obat dan yang dibaca ketika meruqyah, memang merupakan obat yang bermanfaat. Namun dibutuhkan respon pada tempat, kuatnya semangat dan pengaruh orang yang meruqyah. Bila obat itu tidak memberi pengaruh, hal itu dikarenakan lemahnya pengaruh peruqyah, tidak adanya respon pada tempat terhadap orang yang diruqyah, atau adanya penghalang yang kuat yang mencegah khasiat obat tersebut, sebagaimana hal itu terdapat pada obat dan penyakit hissi. Tidak adanya pengaruh obat itu bisa jadi karena tidak adanya penerimaan thabi’ah terhadap obat tersebut. Terkadang pula karena adanya penghalang yang kuat yang mencegah bekerjanya obat tersebut. Karena bila thabi’ah mengambil obat dengan penerimaan yang sempurna, niscaya manfaat yang diperoleh tubuh dari obat itu sesuai dengan penerimaan tersebut. Demikian pula hati. Bila hati mengambil ruqyah dan doa-doa perlindungan dengan penerimaan yang sempurna, bersamaan dengan orang yang meruqyah memiliki semangat yang berpengaruh, niscaya ruqyah tersebut lebih berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan, terkadang sebagian orang yang menggunakan thibbun nabawi tidak mendapatkan kesembuhan. Yang demikian itu karena adanya penghalang pada diri orang yang menggunakan pengobatan tersebut. Penghalang itu berupa lemahnya keyakinan akan kesembuhan yang diperoleh dengan obat tersebut, dan lemahnya penerimaan terhadap obat tersebut. Contoh yang paling tampak/ jelas dalam hal ini adalah Al-Qur`an, yang merupakan obat penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada. Meskipun demikian, ternyata sebagian manusia tidak mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang ada dalam dadanya. (Hal ini tentunya terjadi,) karena kurangnya keyakinan dan penerimaannya. Bahkan bagi orang munafik, tidak menambah kecuali kotoran di atas kotoran yang telah ada pada dirinya, dan menambah sakit di atas sakit yang ada. Dengan demikian thibbun nabawi tidak cocok/ pantas kecuali bagi tubuh-tubuh yang baik, sebagaimana kesembuhan dengan Al-Qur`an tidak cocok kecuali bagi hati-hati yang baik. (Fathul Bari, 10/210) Tentunya perlu diketahui bahwa kesembuhan itu merupakan perkara yang ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Yang Maha Kuasa sebagai Dzat yang memberikan kesembuhan terkadang menunda pemberian kesembuhan tersebut, walaupun si hamba telah menempuh sebab-sebab kesembuhan. Dia menundanya hingga waktu yang ditetapkan hilangnya penyakit tersebut dengan hikmah-Nya. Yang jelas kesembuhan dapat diperoleh dengan obat-obatan jika dikonsumsi secara tepat, sebagaimana rasa lapar dapat hilang dengan makan dan rasa haus dapat hilang dengan minum. Jadi secara umum obat itu akan bermanfaat. Namun terkadang kemanfaatan itu luput diperoleh karena adanya penghalang. (Fathul Bari, 10/210) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Ta’ala adalah ruqyah yang syar’i, yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Ketahuilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Al-Qur`anul Karim sebagai syifa` (obat/ penyembuh) sebagaimana firman-Nya: “Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44) “Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an apa yang merupakan syifa` dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82) Huruf مِنْ dalam ayat di atas untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan tab‘idh (makna sebagian). Karena Al-Qur`an seluruhnya adalah syifa` dan rahmat bagi orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya (yaitu surat Al-Fushshilat: 44).” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 7) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pe |
|