RUMAH THERAPY "SYAFAKALLAH"

Blog EntryCabut gigi, why not? Apr 2, '08 10:49 PM
for everyone

Salah satu hal yang sangat umum sekali dikenal orang tentang 'dokter gigi' adalah 'mencabut gigi'. Padahal notabene profesi dokter gigi tidak hanya selepas mencabut gigi. Maklumlah, bidang kedokteran gigi sekarang ini luas sekali cakupannya terlepas dari 7 bidang kedokteran gigi.

Ok, saya ngga akan membahas masalah bidang kedokteran gigi yang lain. Saya ingin sedikit membahas tentang proses pencabutan gigi, baik dari segi indikasi dan kontra indikasinya, alat-alat yang digunakan, tehnik, dan prosedur yang umum dilakukan. Sudah banyak sebenarnya literatur yang mungkin bisa memberikan penjelasan lebih detil tentang pencabutan gigi, apa yang saya jelaskan mungkin berdasarkan pengalaman 'mencabut gigi' beberapa pasien saya.

Apa sih sebenarnya 'mencabut gigi' itu?
Mencabut gigi merupakan proses pembedahan yang prosedurnya memiliki standar prosedur pada pembedahan atau operasi dengan tujuan adalah mencabut gigi-geligi dari tulang alveolar pada rahang manusia.

Alasan pasien datang ingin di'cabut gigi'-nya?
Mengenai alasan pasien tentunya ini disesuaikan dengan indikasi bahwa 'mencabut gigi' memang perlu dilakukan untuk kebaikan pasien tentunya.

Beberapa Indikasi pencabutan gigi :
1. Gigi dengan supernumerary, maksudnya gigi yang berlebih yg tumbuh secara tidak normal.
2. Gigi persistensi, gigi sulung yang tidak tanggal pada waktunya, sehingga menyebabkan gigi tetap terhambat pertumbuhannya.
3. Gigi yang menyebabkan fokal infeksi, maksudnya dengan keberadaan gigi yang tidak sehat dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia.
4. Gigi yang tidak dapat dirawat secara endodontik/restorasi, gigi yang tidak bisa lagi dirawat misalnya; tambal, perawatan saluran akar.
5. Gigi dengan fraktur/patah pada akar krena trauma misalnya jatuh, kondisi ini jelas akan membuat rasa sakit berkelanjutan pada penderita hingga gigi tersebut menjadi non vital atau mati.
6. Gigi dengan sisa akar, sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya jaringan ikat seperti pembuluh darah, kondisi ini membuat akar gigi tidak vital.
7. Gigi dengan fraktur/patah pada bagian tulang alveolar ataupun pada garis fraktur tulang alveolar, kondisi ini sama dengan gigi pada fraktur pada akar.
8. Untuk keperluan perawatan ortodontik ataupun prostodontik, biasanya hal ini merupakan perawatan konsul dari bagian ortodontik dengan mempertimbangkan pencabutan gigi untuk mendapatkan ruangan yang dibutuhkan dalam perawatannya.
9. Dan biasanya yang terakhir adalah keinginan pasien untuk dicabut giginya, dengan pertimbangan 'langsung' menghilangkan keluhan sakit giginya, walaupun gigi tersebut masih dirawat secara utuh.

Bila ada indikasi maka ada juga kontra indikasi. Kontra indikasi pencabutan gigi didasarkan beberapa faktor, yang utama faktor lokal dan sistemik.

Faktor lokal:
1. Gigi dengan kondisi abses, maksudnya adanya pus atau nanah pada bagian ujung akar gigi, biasanya ditandai dengan rasa sakit yang hebat, bengkak, suhu meningkat. Tidak bisa dicabut karena proses pencabutan memiliki prosedur anestesi, nah saat dilakukan anestesi obat anestesi tidak akan bisa membuat jaringan yang di anestesi menjadi baal.
2. Adanya suspect keganasan bila dilakukan pencabutan, kondisi ini biasanya pada penderita yang didiagnosa adanya gejala-gejala kanker pada rongga mulut khususnya sekitar jaringan gigi.
3. Pasien dengan perawatan radioterapi, tidak bisa dilakukan pencabutan, dikarenakan dikhawatirkan terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi.

Faktor sistemik: merupakan faktor2 yang sebenarnya perlu pertimbangan khusus untuk dilakukan pencabutan gigi. Bukan kontraindikasi mutlak dari pencabutan gigi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut pencabutan bisa dilakukan dengan syarat penyakit yang menyertainya bisa dikontrol untuk menghindari terjadinya komplikasi saat sebelum pencabutan, saat pencabutan, ataupun setelah pencabutan gigi.

Bagi dokter gigi, mencabut gigi tidak hanya berdasarkan indikasi dan kontraindikasi saja, tetapi juga memperhatikan kondisi pasca pencabutan gigi. Kondisi ini bisa saja menjadi perhatian khusus buat dokter gigi dan tentunya kembali kepada kondisi si pasien pasca pencabutan gigi.

Ada apa dengan pasca pencabutan gigi?

Pasca pencabutan gigi, kondisi tulang alveolar (soket gigi) yang tidak bergigi akan mengalami beberapa tahap proses. Proses tersebut bisa menuju pada proses penyembuhan (healing) atau bisa saja proses terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi.

Bila yang terjadi proses penyembuhan, tentu bukan masalah yang harus dihadapi dokter gigi. Proses penyembuhan ini biasanya memerlukan waktu 3-7 hari untuk penutupan luka pencabutan gigi sampai soket gigi tersebut bisa menutup dengan baik oleh jaringan mukosa gusi.

Bagaimana bila yang terjadi komplikasi pasca pencabutan gigi?

Komplikasi, merupakan kondisi yang tidak diharapkan terjadi pada tindakan medis. Komplikasi ini bisa terjadi karena banyak faktor, baik dari faktor tenaga medis yang tidak terampil, faktor sistemik pasien, juga faktor lain diluar faktor yang disebutkan diatas.

Beberapa komplikasi yang sering terjadi pasca pencabutan gigi:
1. Oedema (dibaca: "udem"), pembengkakan yang tidak wajar, keadaan ini merupakan kondisi bengkak pada bagian tempat gigi yang dicabut. Ini bisa terjadi karena bermacam hal, seperti; trauma pada luka pencabutan, infeksi sekunder, proses inflamasi yang tidak terkontrol.
2. Perdarahan (hemorragie), keadaan ini merupakan terjadinya perdarahan yang hebat saat pencabutan gigi. Ini terjadi karena bermacam hal, seperti; kelainan sistemik pada pasien (misalnya hipertensi yang tidak terkontrol).
3. Dry socket, kondisi ini merupakan kondisi soket bekas pencabutan gigi tidak mengeluarkan darah, bisa disertai dengan bau, sakit hebat. Ini terjadi karena bermacam hal, seperti; adanya infeksi sekunder, penggunaan obat tertentu diluar ketentuan dokter/dokter gigi.
4. Patah tulang mandibula atau maksila, kondisi ini terjadinya fraktur (patah tulang) yang tidak diharapkan dari bagian soket gigi, atau bahkan tulang mandibula atau maksila tempat melekatnya tulang alveolar berada. Paling umum terjadi dikarenakan kesalahan tehnik operator saat melakukan pencabutan gigi. Oleh karena itu operator diharuskan memiliki tehnik yang benar dan bisa memperhitungkan seberapa besar penggunaan tenaga saat mencabut gigi dan cara menggunakan alat dengan tepat.

Lantas, setelah kita bisa tahu bagaimana dan apa saja yang bisa terjadi saat komplikasi pasca pencabutan gigi, apa yang harus dilakukan?

Untuk informasi saja, menghadapi komplikasi harus sesuai dengan etiologi (penyebab utamanya) dari saat sebelum dilakukan pencabutan gigi hingga sesudah pencabutan gigi, untuk mendapatkan perawatan segera mungkin yang tepat juga, untuk itulah kembali fungsi diagnosa sangat penting berperan.

Jadi, jangan takut untuk melakukan men-'cabut gigi'....


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help