RUMAH THERAPY "SYAFAKALLAH"

Blog EntryBerobatMar 14, '08 7:04 PM
for everyone

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya, yang akan diketahui siapa pun yang mengetahuinya, Jika suatu obat dapat menyembuhkan penyakit, maka orang yang sakit akan sembuh dengan seizin Allah.”

“Berobatlah kalian wahai hamba-hamba Allah, kerana Allah Ta’ala tidak menciptakan penyakit melainkan juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja yaitu penyakit tua.”
Sunan Abu Daud. Menurut Syaikh Al-Albany, ini hadits shahih. Lihat Shahihul-Jami,2930.

Dari Ibnu Abbas ra., bahwa ada seorang lelaki bangkit menghampiri Rasulullah SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah berobat ada manfaatnya, toh sudah ada takdir?”
Rasulullah SAW menjawab,
“Obat juga termasuk takdir. Ia bermanfaat bagi siapa pun yang dikehendakinya dengan apa yang dikehendakinya.”
Shahihul-Jami’ Al-Albany,3416. Syaikh menghasankannya.

Nabi telah menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang komplit dan tuntas: “ Semua obat-obatan itu, ruqyah dan imunisasi adalah termasuk takdir Allah.” Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Takdir Allah dapat berubah dengan takdir-Nya pula. Perubahan itu sendiri juga termasuk takdir-Nya. Maka tidak ada jalan untuk keluar dari takdir-Nya dengan cara apapun.
Ath-Thibb An-Nabawy

Kesembuhan

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah SAW bersabda,
“Kesembuhan ada pada tiga macam: Minum madu, sayatan alat hijamah atau sundutan api. Namun aku melarang umatku melakukan sundutan api.”
Shahih Al Bukhary,5680.

Al Bukhary meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa dia pernah mendengar Nabi SAW bersabda,
“ Dalam Habbatus Sauda’ terkandung kesembuhan untuk segala penyakit,kecuali as-sam.” Aku bertanya, “Apa as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian.”
Shahih Al Bukhary, 5687

“Tidak ada satu pun penyakit melainkan dalam habbatus sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali kematian.”
Shahih Muslim, 2251

 

Manakah Ilmu Kedokteran dan manakah Dokter?

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberikan kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu dikumpulkan.”
(Al-Anfal: 24)

Manakah Ilmu Kedokteran dan manakah Dokter?

Ada seseorang pernah berkata kepada Nabi SAW, “Aku adalah orang yang dapat mengobati.” Maka beliau bersabda,
“Allahlah yang dapat mengobati. Yang lebih tepatnya, engkau adalah rafiq (pendamping), sedangkan yang mengobati adalah yang menciptakannya.”
As-Silsilah Ash-Shahihah, 1537. Al-Albany menshahihkannya. Diriwayatkan Abu Daud, 3674 dan Ahmad, 16843.

Ilmu Kedokteran dan penyembuhan termasuk salah-satu sebab kesembuhan. Sementara kita diwajibkan untuk mengambil sebab. Sebab penyembuhan yang paling agung dan akurat adalah berasal dari wahyu langit, yaitu pengobatan ala-Nabi yang mulia, Ath-Thibbun-Nabawy Asy-Syarif.
Pengobatan harus didasarkan kepada Aqidah Islam. Dengan kata lain, bahwa Allah yang menguasai alam ini, bahwa di Tangan-Nyalah terdapat kesembuhan, bahwa Dialah yang memberikan kesembuhan atau menahannya bagi manusia.


Ibrahim Alaihis-Salam berkata, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(Asy-Syu’ara’:80).


Beliau menetapkan dan menegaskan satu hakikat dan aqidah yang tidak boleh lepas dari hati orang Muslim.

Ath-Thibb An Nabawy (Pengobatan ala-Nabi)

Ibnu- Qayyim berkata, “Pengobatan ala- Nabi tidak seperti layaknya pengobatan para ahli medis. Pengobatan ala-Nabi dapat diyakini dan bersifat pasti, bernuansa Ilahy, berasal dari wahyu dan misykat nubuwah serta kesempurnaan akhlak. Sementara pengobatan lainnya lebih banyak bersifat praduga, kira-kira dan berdasarkan eksperimen.
Lain halnya dengan pengobatan ala- Nabi, yang keefektifannya langsung diterima, disertai dengan keyakinan akan kesembuhannya dan kesempurnaan penerimaannya berdasarkan iman dan kepasrahan.

Al-Quran menjadi kesembuhan bagi penyakit di dalam dada, jika tidak diterima dengan cara itu, maka ia tidak akan menyembuhkan penyakit di dalam dada.

Nabi SAW Menjelaskan Obat Kepada Orang Lain

Penjelasan Nabi SAW tentang obat di hadapan orang yang sakit, berdasarkan wahyu yang beliau terima.



Firman Allah,
“Dan tiadalah yan diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
(An-Najm:3-4)

Pengobatan ala-Nabi tiada lain merupakan wahyu yang berasal dari Ath-Thabib Azza wa Jalla, disampaikan kepada Al- Habib Nabi SAW

Ibnul Qayyim berkata, “Membandingkan pengobatan para pakar pengobatan dengan pengobatan Rasul Allah SAW, sama dengan membandingkan pengobatan orang-orang yang lemah dengan pengobatan mereka. Para pemuka mereka pun sudah mengakui hal ini. Pengetahuan yang mereka miliki tentang pengobatan, ada yang berkata bahwa itu merupakan analogi, eksperimen, ilham, mimpi atau perkiraan yang kebetulan tepat.

Mana mungkin hal ini dapat disejajarkan dengan wahyu yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dengan disertai penjelasan tentang hal-hal yang bermanafaat dan bermudharat? Membandingkan ilmu yang mereka miliki dengan wahyu ini, sama dengan membandingkan ilmu yang mereka miliki dengan apa yang disampaikan para nabi. Bahkan di sana ada obat-obat yang berasal dari penjelasan wahyu, yang memberikan pengaruh positif terhadap kesembuhan, yang tidak dapat disamai ilmu dokter yang paling pakar sekalipun, tidak pula disamai analogi dan eksperimennya. Kami sudah pernah mencoba hal ini, juga teman-teman kami, yang ternyata memberikan pengaruh yang tidak dapat dicapai obat-obatan macam apa pun.

Ath-Thibb An-Nabawy, hal 11-12.

 

Pentingnya Penyembuhan Dengan Al-Quran Dan As-Sunnah

Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Quran dan dengan apa yang ditegaskan oleh Nabi SAW berupa Ruqyah

(Ruqyah jama’nya adalah ruqaa, yaitu bacaan-bacaan untuk
pengobatan yang syar’I (yaitu berdasarkan pada riwayat yang shahih, atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama)

Allah SWT berfirman,
“Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.’”
(QS. Fushilat:44)

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Israa’: 82)

Pengertian “dari al-Quran”, pada ayat diatas adalah al-Quran itu sendiri. Karena al-Quran secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana disebutkan ayat di atas.


Obat Dan Penyembuhan Yang Dilarang Nabi SAW

Firman Allah,
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(Al-Hasyr:7)
Meskipun Nabi SAW sudah melarang melakukan penyembuhan denga hal-hal yang diharamkan dan obat-obat yang kotor, buruk dan beracun, toh masih ada orang di zaman sekarang yang menyalahi sabda beliau , lalu dia melakukan penyembuhan dengan hal-hal yang diharamkan, seperti penggunaan racun ular atau dengan menggunakan bagian-bagian tubuh binatang yang diharamkan.

Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada sesuatu yang diharamkan atas kalian.”
Diriwayatkan Abu Daud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Al-Albany menshahihkannya.

Dari Abu Hurairah ra., Dia berkata, “Nabi SAW melarang penggunaan obat yang buruk.”
Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’y. Al-Albany menshahihkannya dalam Shahihul-Jami’, 6878
Yang dimaksudkan buruk atau al-khabits di sini ialah obat yang beracun atau racun itu sendiri.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa menghisap racun, maka racunnya ada di tangannya dan dia akan menghisapnya di neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”
Muttafaq Alaihi;Al Bukhary,5778;Muslim,109.

Siapakah Selain Allah yang Mampu Memenuhi Keperluan Orang yang Berdoa untuk Mengenyahkan Kesulitan?

Firman Allah,
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingat (Nya)?”
(An-Naml: 62)

Wahai saudaraku karena Allah, ketahuilah bahwa berdoa disertai keyakinan, sabar dan ridha menjadi sebab kesembuhan, bahkan itu merupakan kesembuhan yang paling kuat.
Dari Salman Al-Farisy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah Mahahidup dan Maha Pemurah. Dia malu sekiranya ada seseorang menengadahkan kedua tangannya, menarik tangannya dalam keadaan hampa tanpa hasil.”
Diriwayatkan At-Tirmidzy, disebutkan dalam Shahihul-Jami’,1757, ini hadits shahih

Firman Allah,
“Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al-Baqarah:186)

Demi Allah, siapa yang berdoa kepada Allah dengan disertai keyakinan doanya akan dikabulkan, tanpa merasa memerlukan selain Allah, menghampiri pintu Allah dan mengetuknya, menelungkup di hadapan-Nya, niscaya Allah akan memenuhi segala keperluannya, dan itulah yang pasti terjadi.



Kesembuhan yang Berasal dari Wahyu Penutup Para Nabi

Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap penyakit ada obatnya.”
Shahih Muslim,2204

“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat baginya.”
Shahihul-Jami’,5558. Ini hadits shahih

“Dzat yang menurunkan penyakit, juga yang menurunkan kesembuhan menurut kehendak-Nya.”
Diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, disebutkan dalam Shahihul-Jami’,1688. Ini hadits shahih.

Sesungguhnya penyakit adalah sebagian dari hakikat. Begitu pula kesembuhan. Tapi analisis dan diagnosis terhadap jenis-jenis penyakit, merupakan perkara yang tidak mengenal kata akhir.

Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.”
Shahih Muslim, 1015
Setiapkali Allah meninggalkanperkara yang baik, maka Dia juga meletakkan jalan dan caranya. Karena itulah Dia mengutus kekasih-Nya, Muhammad SAW agar menerangi jalan di hadapan kita dengan petunjuk Al-Kitab dan As-Sunnah, agar kita termasuk golongan orang-orang yang memiliki roh yang baik.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help